Bagaimana rasanya berpura dalam rasa?
Mungkin seperti menepi pada koridor hati. Kamu tak kuasa berani menjejak langkah.
Pun hanya beberapa meter ke muka atau berjinjit kecil untuk mundur ke belakang.
Apa itu namanya? Skeptis?
Keentahan yang pada akhirnya membuat aku mengulang kesekian hari pada ketukan yang sama. Datar. Dan aku pikir (seharusnya) kamu tahu itu.
Bagaimana rasanya terengah memburu yang kaku ketika kamu dikejar waktu?
Sebab terkadang yang logis berbentur dengan hati. Lalu kamu tahu?
Bagiku perihal membagi rata dari masing-masing mereka sama sukarnya dengan tak mengacuh pada setiap pesan singkat yang membuatku hilang kata.
Boleh ya aku tertawa lepas, rasanya serupa beradegan dan mengambil peran pada melodrama yang sebelumnya sering aku perolok.
Atau boleh aku berandai, kita duduk pada sofa beludru tosca, dengan kamu sibuk memperhatikanku yang mengerjap-ngerjapkan mata, entah kagum atau terlalu semangat bercerita setiap detil yang mereka pikir untuk apa.
Tetapi nyatanya tidak pernah seperti itu. Aku tertawa lepas (lagi).
Maka biarkan memoar merangkum setiap temu dari kita bersama partikel yang berkonspirasi dalam sekelilingku dan kamu.
Ketika yang berbeda sudah tiada bertabrakan. Aku menghela. Lega.
Aku berjungkit bahagia. Kamu juga. Semoga.
Happy ending bukan perkara mendapati akhir jalan cerita sesuai skenario kita. Karena pada akhirnya, skenario Tuhanlah yang terindah.
