1. Semoga bukan karena aku sedang diburu waktu

                 

    Aku menuliskan namamu pada langit harapan untuk terakhir kali.

    Hingga akhirnya aku berhenti berharap terlalu riuh pada ending seri terakhir cerita kita.

    Aku paksa menyisipkan kata tamat pada cerita bersambung yang kamu susun dan mustahil akan kamu selesaikan.

    Abaikan kita yang dulu terlalu memuja stagnansi.

    Aku menyerah, biar aku sisakan ruang untuk menuliskan namanya, untuk dia yang menunggu waktu untuk bertemu, untuk dia yang mungkin tak akan mengataiku introvert, untuk dia yang bahkan belum pernah aku tahu, dan kupastikan itu bukan kamu.

    Sudah saatnya mengekskusi skeptisku pada hari ke seribu empat ratus enam puluh sejak kita saling kenal.

    Maaf ya, aku sudah bosan menerka katamu yang implisit.

    Maaf ya, semoga saja bukan karena aku sedang diburu waktu.

    -Wandhansari Sekar

    • Adek : "Mba, undangan snmptn pengumumannya dimajuin jd hari ini jam 5 "
    • Saya : "yaudah cepetan diliat, keburu koneksinya crowded nanti"
    • A : "(sibuk mengetikkan nomor pendaftaran) kamu aja mba yang ngeklik, nanti aku histeris"
    • S : "(klik pilihan lihat) eh masa lulus seleksi pendidikan dokter gigi UGM"
    • A : "(histeris) masa? alhamdulillah (sujud syukur)"
    • S : "Coba dibuka lagi siapa tau hasilnya beda"
    • A : "(buka tab baru) bener kok"
    • S : "Coba bukanya pake mozila td kan pake google chrome, siapa tau hasilnya beda"
    • A : "masa? bener kok"
    • Satu jam kemudian
    • S : "Coba dibuka lagi, siapa tau tiap jam hasilnya beda"
    • A : "udah BENER ini"
    • S : "eh coba ganti laptopnya, siapa tau di laptop lain hasilnya beda"
    • A : -_________-"
  2. "Seorang pria, terkadang harus tahu, permintaan mana dari seorang wanita, yang harus dilawannya. Kau tahu, wanita suka membuat pria menerka-nerka apa mau mereka’."
    Papapku - Piat Priatna (via karenapuisiituindah)
  3. "Perempuan, ialah sebuah kota, yang cuacanya cepat sekali berubah-ubah."
  4. "Kamu tahu? Aku percaya aku tak berdoa sendirian setiap malam, karena kamu pun bersembahyang pada saat yang sama, meskipun kita tak saling mengatakannya. Dan kita punya permohonan yang sama kepada Tuhan: Bahagia."
    Bagaimana mungkin hati Tuhan tak luluh, saat dua hati memohon hal yang sama? :’)
  5. Halo waaan :)

    Haloo Lam. ketemu di tumblr nih kita :D

  6. "Senja, waktuku berpulang bersama memoar, membiarkannya mengendap hingga gelap"
    Wandhansari Sekar
  7. Seperti mengejar tempo, isi kepalaku bersahutan bergantian memutar memori antara aku dan kamu.

  8. "I like the way you give your attention that was hidden in your jokes.
    I like the way I swing my hand then put your name on my paper."
    Wandhansari Sekar
  9. Kamu..terimakasih ya!

            

    Aku ingin memulainya dengan menggertak rasa yang terselip himpitan alibi penuh alasan

    Aku masih ingat betul.

    Kita beriringan berdesakan demi pertunjukan yang tak pernah henti kamu bicarakan seminggu ini.

    “Aku penasaran”, katamu.

    Aku pasrah saja mengiyakan.

    Kita berdiskusi sembari setengah berbisik.

    Mengomentari tiap pergantian scene dengan kalimat tajammu yg terkadang membuatku menahan senyum.

    Kalau aku bilang, kamu kritikus sejati,

    “Kamu bosan ya?”, kalimat itu sudah beberapa kali aku dengar tiap kali aku menguap saat duduk di sebelahnya.

    Aku menggeleng seperti biasa.

    “Oke, kita keluar saja sekarang”.

    Aku juga sudah tidak asing dengan kalimatmu ini.

    Bahkan kamu dapat membaca pikiranku tanpa bantuan lisan sekalipun.

    Aku masih bersemangat meluncurkan kata demi kata yang menyusun cerita konyolku minggu lalu.

    Kamu memperhatikannya betul-betul sambil sesekali menimpali dengan tawamu yang khas.

    Aku suka caramu membagi waktu untuk mendengar ocehanku atau membaca bait tulisanku yang katamu terdengar cengeng.

    Aku suka caramu berkata you can change your plan for d same goal saat aku masih menekuk muka dan merecokimu dengan keluhan.

    Aku hafal caramu mengingatkan detail yang mungkin terlupa untuk aku perhatikan.

    Kamu tak pernah berhenti merancang dan memadupadankan kata untuk meluluhkan aku yang menurutmu skeptis.

    Bahkan kamu tak pernah kehilangan kata untuk sekedar berbincang ringan denganku.

    Yes, you have proven it!

    Untuk segala alasan apapun itu.

    Kamu..terimakasih ya!


    -Wandhansari Sekar

About me

Iya, benar kamu, yang tak pernah puas menggelitik hatiku. Entah berakhir tawa atau air mata. Biar saja aku diam, kamu diam, tunggu saja semesta tergerak. Welcome conspiracy!

Likes