
Aku menuliskan namamu pada langit harapan untuk terakhir kali.
Hingga akhirnya aku berhenti berharap terlalu riuh pada ending seri terakhir cerita kita.
Aku paksa menyisipkan kata tamat pada cerita bersambung yang kamu susun dan mustahil akan kamu selesaikan.
Abaikan kita yang dulu terlalu memuja stagnansi.
Aku menyerah, biar aku sisakan ruang untuk menuliskan namanya, untuk dia yang menunggu waktu untuk bertemu, untuk dia yang mungkin tak akan mengataiku introvert, untuk dia yang bahkan belum pernah aku tahu, dan kupastikan itu bukan kamu.
Sudah saatnya mengekskusi skeptisku pada hari ke seribu empat ratus enam puluh sejak kita saling kenal.
Maaf ya, aku sudah bosan menerka katamu yang implisit.
Maaf ya, semoga saja bukan karena aku sedang diburu waktu.
-Wandhansari Sekar
