1. Happy Ending.

    Bagaimana rasanya berpura dalam rasa?
    Mungkin seperti menepi pada koridor hati. Kamu tak kuasa berani menjejak langkah.
    Pun hanya beberapa meter ke muka atau berjinjit kecil untuk mundur ke belakang.
    Apa itu namanya? Skeptis?
    Keentahan yang pada akhirnya membuat aku mengulang kesekian hari pada ketukan yang sama. Datar. Dan aku pikir (seharusnya) kamu tahu itu.
    Bagaimana rasanya terengah memburu yang kaku ketika kamu dikejar waktu?
    Sebab terkadang yang logis berbentur dengan hati. Lalu kamu tahu?
    Bagiku perihal membagi rata dari masing-masing mereka sama sukarnya dengan tak mengacuh pada setiap pesan singkat yang membuatku hilang kata.
    Boleh ya aku tertawa lepas, rasanya serupa beradegan dan mengambil peran pada melodrama yang sebelumnya sering aku perolok.
    Atau boleh aku berandai, kita duduk pada sofa beludru tosca, dengan kamu sibuk memperhatikanku yang mengerjap-ngerjapkan mata, entah kagum atau terlalu semangat bercerita setiap detil yang mereka pikir untuk apa.
    Tetapi nyatanya tidak pernah seperti itu. Aku tertawa lepas (lagi).

    Maka biarkan memoar merangkum setiap temu dari kita bersama partikel yang berkonspirasi dalam sekelilingku dan kamu.
    Ketika yang berbeda sudah tiada bertabrakan. Aku menghela. Lega.
    Aku berjungkit bahagia. Kamu juga. Semoga.

    Happy ending bukan perkara mendapati akhir jalan cerita sesuai skenario kita. Karena pada akhirnya, skenario Tuhanlah yang terindah.

  2. Dalam Sebuah Perjalanan.

    Ada rindu terselip dalam diksi yang merasai sendu.

    Karena setiap lompatan titik waktu tiada jengah bergumul dalam laut pengharapan. Luas. Tak terbatas.

    Atau sederhananya sebut saja itu cita-cita.

    Simply ordinary ujarku, pada usia tujuh belas tahun lalu.

    Lalu apa? Pada kesekian waktu setelahnya nadi anganmu berdenyut berfluktuasi. Mendeskripsikan grafik bergelombang tak beraturan.  Abstrak.

    Aku terduduk di sudut ruang resto siap saji favoritku, dengan meja segi empat dan bangku kosong di depanku.

    Kaset memoarku tetiba merewind setiap percik-percik kecil yang mendayu.

    Memutar frekuensi yang disekat jeda-jeda pendek dalam lantunan setiap mikrodetik jam tanganku.

    Sempurna dalam durasinya menenggelamkan aku beradu pada putaran waktu.

     Kemudian limbung. Yaa, aku tersesat dalam labirin pikiranku sendiri

    Aku mengaduk kembali vanila float pesananku. Mencecap legitnya, membuang getirnya.

    Berperjalanan adalah perkara mengitari orbit semesta, mengumpulkan abjad milikmu menjadi rangkaian cerita. Melingkari jarak, hingga tiba saatnya Tuhan memintamu kembali pulang.

    Ada yang perlahan berjalan jauh. Memunggungiku. Tak sedikitpun lepas aku memperhatikannya. Hingga penglihatan yang lekat tak lagi menjangkaunya. Punggungnya menghilang.

    Aku menyeruput vanila float terakhirku lalu menggenggam erat gelas di depanku. Ruas-ruas jariku mendadak kaku.

    Menyandarkan diri pada kursi, sembari menciptakan ruang hening pada sekelilingku.

    Kamu hanya sedang berperjalanan kataku.

    Karena kamu harus berdamai dengan setiap titik yang kamu singgahi.

    Betapa berproses  adalah pembelajaran dengan label harga tak terkira. Biarkan gairah kehidupan memelukmu erat. Walau lelah sekalipun.

    Bercita-citalah tiada henti. Karena hidup adalah belajar sepanjang hayat bukan?

    Lalu kini, apa lagi cita-citamu?

    Dalam angan, cita-cita, dan pengharapan, aku bergegas.

    Wandhansari Sekar

  3. "You love your job, but your life not only about your job."
    -Wandhansari Sekar
  4. 
“Ada jarak yang harus ditempuh sampai suasana siap menerima kita. Dan kita arif menerimanya, bukan?”
Sonet 7 karya Sapardi Djoko Damono.

    “Ada jarak yang harus ditempuh sampai suasana siap menerima kita. Dan kita arif menerimanya, bukan?”

    Sonet 7
    karya Sapardi Djoko Damono.

  5. "Pada satu titik yang disebut pulang,
    seakan ragamu itu tak pernah beranjak kemana-mana.
    Tapi di baliknya, telah tumbuh jiwa yang matang,
    telah berdesakan gairah yang berkelindan,
    telah benderang perspektifmu akan berkehidupan.
    Semestinya itu yang dicapai setiap kali usai berperjalanan."
    Juni Barra Pradita (via nnndaru)
  6. Dear, My Future.

    Sometimes, I miss you. You are whom I don’t know who.

    Complicated.

    Karena akan menjadi rumit, ketika meletakkan rindu tanpa tahu di mana tempatnya.

    Halo kamu, entah di mana, entah siapa.

    Merindu pada Tuan tanpa nama yang aku tahu, pada sekian puluh usiaku. Adalah serupa menebak sandi Tuhan pada setiap aku berbincang denganNya.

    Betapa sebenarnya jarak bukan merupakan sekat ukuran tak terkira. Karena dalam semesta kita berada pada ruang planet yang sama bukan?

    Sejauh-jauhnya kita menjejak hanya tergaris pada batas diameter bumi. Secuil dari hingar bingar tata surya.

    Tuan, kamu percaya adanya gravitasi?

    Kalau kita berpijak pada sisi berlawanan, gravitasi akan menarik antara kita, walaupun sedikit terseok ya.

    Abaikan saja sedikit frakturnya, biar kemudian memintal rasa sedemikian rupa. Sampai benar-benar terasa bahagia. Sampai komposisinya benar-benar sempurna.

    Terkadang dalam senggang aku masih patah. Bukan karena aku enggan beranjak pada abu-abu. Hanya terlalu penat menangkap radar yang berkoar-koar tanpa rasa.

    Pada sekian waktu aku pernah mencecap pahit Tuan. Tentang rasa di atas daun akasia. Aku melarung doa, hingga sudah legit menjadi penawarnya.

    Merunut pada linimasa, betapa aku rasa setiap duka atau sukacita menyita porsi tersendiri dalam romansa yang berarti.

    Karena pada masanya mendiamkan rasa yang meletup-letup akan tumpah ruah, menjelma menjadi larik-larik renyah menampar memoar.

    Kemudian aku terperangah.

    Selamat malam Tuan. Selamat memejam. Semoga hati kita tidak lagi lengang ya.

  7. "Kalau orang lain aja percaya sama kamu, alasan apa lagi yang buat kamu nggak percaya sama dirimu sendiri."
    dalam rangka menghapus krisis percaya diri.
  8. Februari, Saksi Patah Hati

    #30HariMenulisSuratCinta

     

    Selamat pagi Februari,

    Kepada setiap kamu yang terbangun dengan rasa merindu.

    Ketahuilah, bahwa setelah menamatkan sekian fase yang berawal pada ejaan sederhana, akan tiba ketika angka dua mulai menjejal tepat di muka pada sekian puluh usiamu.

    Betapa kompleksitas sudah menyesak keakrabannya, memenuhi ruang-ruang yang menggerus petak hati tak bersisi.

    Menyepi pada Februari, menyaksikan kita yang patah hati. Patah hati pada mimpi yang wujudnya masih merona kemerahan.

    Aku merutuki diri. Kemudian menggertak hati, rasanya jengah jika terlalu lama menyusur tanpa mampu sekadar mengisi rongga-rongga kosong dengan sedikit penawar hati. Nyeri.

    Aku bukan sengaja melalaikan diri untuk meluapkan terima kasih pada Dia yang tiada bosan memberi. Aku hanya menjadi terlalu sering lupa karena sibuk berdebat pada ambisi tanpa jeda.

    Menjemukan adalah ketika dalam sepersekian waktu yang singkat, menjadi terasa begitu panjangnya. Sebab hati berjarak berjuta mil menjauh dari setiap apa yang padahal sudah menjadi pilihan. Ada bagian yang hilang dalam aku.

    Bahwa tidak ada yang lebih menyesak, selain tiada yang mampu membaca segala tentang “lentera jiwamu”. Pun diri kita sendiri. Hingga pada akhirnya, ada saatnya harus rela tersesat pada beberapa bab lainnya, sebelum  menjejak rasa sedemikian rupa  pada semesta. Karena semua tiada yang cuma-cuma.

    Betapa ujung dari bahagia itu ketika setiap partikel dari kita berkumpul, tiada yang hilang dari setiap bagiannya.

    Hidup adalah tentang bagaimana menyelaraskan pilihan Tuhan dengan pilihan kita.

    Selamat menemukan lentera jiwa :)

    Tangerang, 10 Februari 2013

    Wandhansari Sekar

About me

Iya, benar kamu, yang tak pernah puas menggelitik hatiku. Entah berakhir tawa atau air mata. Biar saja aku diam, kamu diam, tunggu saja semesta tergerak. Welcome conspiracy!

Likes